Gempa Bumi dan tsunami yang terjadi, kurang lebih setahun yang lalu, atau lebih tepatnya yang terjadi pada tanggal 11 Maret 2011, yang menyebabkan meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima di Jepang, masih terus membayang-bayangi dan masih terus memberikan shock wave yang sampai saat ini masih dapat dirasakan di berbagai belahan bumi. Berbagai tanggapanpun bermunculan dari negara-negara di seluruh dunia sebagai reaksi atas bencana Fukushima ini, baik yang masih bertahan dengan keputusan untuk tetap mengembangkan nuklir, maupun yang pada akhirnya meninjau ulang kebijakan nuklirnya. Beberapa tanggapan dari berbagai negara terkait bencana ini dapat dirangkumkan sebagai berikut:
Jepang
Bencana terkait nuklir yang terjadi setahun yang lalu sebenarnya bukanlah yang pertama kali dialami oleh Jepang karena, sebagaimana yang telah diketahui bersama, bahwa di bulan Agustus 1945, bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima telah menewaskan sekitar 140 ribu jiwa, dan di Nagasaki, lebih dari 70 ribu meninggal.
Walikota Nagasaki, Tomihisa Taue telah mengatakan beberapa kali bahwa Jepang harus mengembangkan energi yang lebih aman seperti matahari dan angin. Senada dengan walikota Nagasaki, Perdana Menteri Naoto Kan juga menginstruksikan pengalihan energi nuklir ke energi terbarukan.
Setelah terjadinya bencana Fukushima, Jepang menutup hampir seluruh fasilitas nuklirnya untuk melaksanakan pengecekan keamanan, dan tepat pada 5 Mei 2012 ini, Jepang menutup reaktor nuklir terakhir yang masih beroperasi, dan menjadikannya sebagai negara tanpa nuklir setelah kecelakaan atomik terburuk di dunia selama seperempat abad tersebut terjadi. Sampai saat ini, untuk memenuhi 1/3 kebutuhan energi nasional yang sejatinya disuplai dari energi nuklir, negara ini masih mengalihkan sumber energinya ke sumber energi fosil.
Jerman
Sebelum terjadinya bencana Fukushima, Jerman mempunyai 16 reaktor yang beroperasi dan satu reaktor yang ditutup dalam jangka waktu yang panjang untuk di-upgrade. Akan tetapi, setelah terjadinya bencana, pemerintah terpilih dengan segera dan secara permanen menutup tujuh unit reaktor tertua dan melarang satu reaktor yang di-upgrade tersebut untuk dinyalakan kembali, dan semua pembangkit listrik tenaga nuklir yang ada di Jerman akan ditutup pada tahun 2022.
Namun, dampak ekonomi yang diakibatkan dari penutupan fasilitas nuklir secara tiba-tiba ini sangatlah terasa – tidak hanya untuk Jerman, tapi juga di daerah sekitarnya. Jerman telah menjadi salah satu dari negara di Eropa yang mempunyai biaya listrik yang paling inggi, yang meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai akibat dari penutupan tujuh reaktor, impor listrik ke nagara ini dengan segera meroket karena adanya pengetatan pasokan dan mengakibatkan kenaikan harga di seluruh wilayah. Emisi karbon juga diprediksikan akan meningkat, dengan adanya tanda-tanda bahwa pemerintah akan membangun 20 GWe pembangkit listrik tenaga gas dan uap berbahan bakar batubara. Analisa dari Deutsche Bank memperkirakan bahwa penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir dapat menyumbang 370 juta ton karbon dioksida yang ditambahkan ke atmosfer selama periode 2011 sampai 2012 dan akan meningkatkan harga listrik sebesar Є5-6 per MWh di tahun 2015.
Belgia
Setelah sekian bulan sejak terjadinya bencana Fukushima, pada November 2011, pemerintah berjalan Belgia memutuskan untuk meninjau ulang kebijakan tahun 2009-nya yang memandang reaktor nuklir untuk beroperasi selama sekitar 50 tahun, dan menggantinya dengan kebijakan untuk menutup reaktor nuklir tersebut 10 tahun lebih cepat. Reaktor tertua yang dimiliki negara ini harus ditutup pada tahun 2015, meskipun hal ini bergantung pada apakah negara dapat mencukupi kebutuhan energi dari sumber energi lainnya. Belgia juga memutuskan untuk meningkatkan pajak bahan bakar nuklir hingga mencapai sekitar Є550 juta per tahun dengan tujuan untuk mengurangi kekompetitifan teknologi nuklir ini. Keputusan ini masih diperdebatkan oleh country’s nuclear utility, yang telah memberikan investasi yang besar dalam peng-upgrade-an reaktor dibawah jaminan kerangka kebijakan yang sebelumnya.
Swiss
Pemerintah Swiss memilih untuk memveto penggantian kapasitas pembangkit nuklir pada Mei 2011. Hal ini berarti bahwa, dengan berdasar pada waktu operasi selama 50 tahun, pembangkit tenaga nuklir akan berhenti pada ahun 2034. Namun, proses pembuatan kebijakan Swiss harus menempuh jalan yang panjang, dan pergerakan kabinet belum diundang-undangkan dan mungkin tidak akan pernah diundang-undangkan – yang menyebabkan adanya potensi untuk menghasilkan kebijakan melalui referendum. Hal ini dapat memakan waktu satu tahun atau lebih untuk memecahkan masalah ini.
China
China menghentikan sementara proses persetujuan reaktor baru sebagai akibat dari adanya kecelakaan Fukushima. Akan tetapi, persetujuan akan reaktor baru diekspektasikan akan dilanjutkan kembali di sekitar tahun 2012. Saat ini China mempunyai program paling ambisius di dunia, dengan 26 unit yang sedang dibangun, 51 unit yang direncanakan dan masih banyak lagi yang diusulkan. Pemerintah China berkomitmen untuk membangung pembangkit tenaga nuklir untuk mengurangi emisi dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara dan untuk membatasi kebergantungan pada impor minyak yang mahal. Sekarang ini China mempunyai 13 reaktor nuklir untuk menyediakan sekitar kapasitas pembangkitan sebesar 10 GWe dan berencana untuk meningkatkannya menjadi sekitar 40 GWe pada tahun 2015. Namun, sebagaimana yang dilaporkan oleh Associated Press, rencana pemerintah untuk meningkatkan dan menambah tenaga nuklir tersebut mendapat perlawanan dari penduduk di China saat ini semakin vokal untuk menentang rencana tersebut. Associated Press juga menyatakan bahwa pembangunan pembangkit baru di kota Pengze di dekat Sungai Yangtze di provinsi Jiangxi telah memicu kemarahan luar biasa dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya yang mengajukan petisi agar rencana pembangunan pembangkit tersebut ditunda..
India
Bencana Fukushima tidak mempunyai pengaruh yang besar pada perubahan kebijakan pemerintah India yang berkaitan dengan target kapasitas nuklir di masa depan. Pemerintah India tetap berencana untuk mengubungkan 60 GWe nuklir ke jaringan pada tahun 2030. Namun, oposisi publik yang besar akan pembangunan proyek-proyek baru mulai meningkat yang mengharuskan pemerintah untuk mencari jalan keluarnya.
Afrika Selatan
Pemerintah Afrika Selatan masih memproses persetujuan rencana untuk membangun 10 GWe nuklir baru yang akan ditambahkan pada generating mix di tahun 2030. Rencana ini telah dikonfirmasi beberapa hari setelah kecelakaan di Fukushima terjadi, dan pemerintah masih belum memberikan tanda-tanda untuk meninjau ulang kebijakannya
United Kingdom
Rencana untuk membangun pembangkit nuklir generasi baru di negara ini masih tetap berada di jalurnya, dengan tiga konsorsium masih berniat untuk membangun 10 unit, atau sekitar 16 GWe kapasitas baru. Menteri energi Charles Hendry juga telah dengan jelas mendukung kuat pemerintah Inggris untuk meneruskan proyek nuklirnya dengan perkataannya “….Inggris kini menjadi tempat yang paling menarik di Eropa, jika tidak di dunia, untuk pembangunan nuklir yang baru”.
Perancis
Perancis adalah negara yang paling bergantung pada tenaga nuklir di dunia dan oleh karenanya, Perancis dapat menikmati listrik yang paling murah dan yang paling rendah karbon di Eropa. Sampai sekarang, tenaga nuklir telah mendapat dukungan bipartisan dari pemerintah. Akan tetapi, kandidat presiden sosialis telah menyatakan akan mengurangi proporsi nuklir dalam energy mix jika dia terpilih sebagai presiden. Pemilihan ini telah masuk ke putaran pertama pada bulan April 2012 ini.
Rusia
Tidak ada perubahan sikap yang dinyatakan Rusia untuk meninjau ulang kebijakan nuklirnya. Rusia tetap berencana untuk meningkatkan sampai hampir dua kali dari kapasitas nuklirnya sekarang (24 GWe) pada tahun 2020. Reaktor baru, Kalinin unit 4, telah dikomisioningkan pada pertengahan Desember 2011. Pembangunan di Rusia akan diteruskan, karena pembangunan tersebut merupakan pilar penting dari kebijakan energi dan di sisi lain, perusahaan-perusahaan Rusia tetap dengan sangat aktif mencari proyek-proyek di luar negeri – dengan kontrak sekarang ini baru ditandatangani di Vietnam dan Turki.
USA
Di USA, negara dengan jumlah reaktor yang masih beroperasi terbanyak di dunia, dukungan publik untuk nuklir masih kuat. Di Februari 2012, Nuclear Regulatory Commission memberi kewenangan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir yang baru di negara tersebut selama 30 tahun. Hampir semua pembangkit yang ada diekspektasikan akan diberikan perpanjangan izin operasi selama 20 tahun (lebih dari 2/3-nya telah diperpanjang) dan akan ada banyak pembangkit yang menjalani uprate, sehingga akan terus meningkatkan kapasitas nuklir yang terpasang di negara ini.
Indonesia
Setelah terjadinya bencana Fukushima, resistansi masyarakat Indonesia akan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir semakin meningkat. Di Jepara, misalnya, gerakan lokal yang terbentuk di daerah tersebut telah dapat mengorganisasi dan membangun jaringan dengan NGO nasional dan internasional untuk melawan pembangunan nuklir. Begitu pula di Bangka Belitung, yang dengan adanya bencana Fukushima, resistansi lokal akan nuklir menjadi meningkat – meskipun belum teroganisir dengan baik.
Penutup
Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa terdapat perbedaan cara pandang negara-negara dalam melihat bencana Fukushima yang terjadi di Jepang. Ada negara-negara yang kemudian meninjau ulang kebijakan energinya, namun dilain pihak, ada pula yang tetap bertahan dengan keputusannya untuk tetap meningkatkan kapasitas pembangkit bertenaga nuklir yang terpasang di negaranya. Namun, untuk Indonesia, dengan mengacu pada “janji” negara maju yang mengatakan bahwa harga energi terbarukan akan sama dengan harga energi fosil mulai tahun 2020. Indonesia masih punya sumber daya energi yang lebih dari cukup sampai energi terbarukan mencapai nilai keekonomiannya. Selain itu, Indonesia berpotensi menjadi negara penghasil bahan bakar nabati terbesar di dunia. Maka, mungkin tidak akan ada satu alasanpun yang masuk akal untuk membangun PLTN di Indonesia.
Referensi:
http://sains.kompas.com/read/2011/03/23/04450986/Setelah.Bencana.Nuklir.di. Jepang
http://world-nuclear.org/briefings/policy_responses_fukushima_accident.html
http://globalwarmingisreal.com/2012/03/14/nuclear-power-one-year-after-the-fukushima-disaster/
http://www.commondreams.org/headline/2012/02/17-1